iMPiAN nONa
"Badanku masih anget. Sisa demam kemaren belum hilang juga, ditambah lagi lihat profile hi5 topino," Nona berguman sendiri.
Udara panas luar dirasakan olehnya meski suhu rendah dari temperatur ac tak pernah mati di ruangan itu. Nona ingat rumahnya tinggal. Hatinya kembali gemes bercampur sebel. Oliver, bule asal Jerman yang nginap di penginapan kakaknya yang sudah hampir setengah tahun ini, merasa kalau Nona ingin sekali menikah dengan dia. "Aku? Apa dia pikir cuma dia laki-laki di dunia ini? Dasar laki-laki geblek, bule’ geblek! Dia yang kenal aku setengah tahun merasa sudah tahu aku beribu-ribu tahun. Emang kebanyakan laki bule pada geblek, expecialy yang muda. Mereka mendapat nilai minus didalam pemberian kesimpulan. Aku baik padanya, atau aku mau bicara dengannya atau aku mau berteman dengannya bukan berarti aku suka padanya. 10 tahun aku sudah bergaul dengan bule dia nggak tahu itu. Apa selama itu hanya dia yang terpilih untuk kukagumi? Untuk kucintai? Apa dia cukup berkwalitas makanya dia sampai menyimpulkan kalau aku mau menikah dengan dia?", gerutu Nona sendiri sambil pandangan mata menatap geram komputer di depannya,seakan komputer itupun pengen ditelan dia idup-idup. "Ah,malas jadinya pulang." Lihat komputer angannya terpaut pada laki-laki yang menggenggam hatinya. "Darling, where are you now?" tanya Nona sedih pada angin yang tak bernyawa disekelilingnya. Kantor dan komputer membuat dia merana karna pasti akan mengingatkannya pada laki-laki bule asal Spanyol yang biasanya, email-email laki-laki itu dibalasnya di kantor. Kini sudah tiga bulan tak satu emailpun yang dikirim oleh hasiannya (sebutan sayang dalam bahasa Batak) itu. Bukan apa-apa, memang maunya Nona untuk memutuskan hubungan pertemanan mereka. Nona yang meminta supaya Ruben (nama bule Spanyol itu) tidak email dia lagi. Nona ga kuat membayangkan Ruben bersama dengan perempuan lain. Makin hari Nona makin sayang sama Ruben. Waktu bertambah, sayang Nona berubah jadi cinta.
Malam kesejuta hari Nona. Waktu itu Nona membuka kotak yang menjadi tempat untuknya menyimpan segala benda-benda penting. Kotak yang awalnya kotak sepatu itu Nona sulap jadi kotak cantik berwarna ungu dengan motif daun. Nona berencana memasukkan photo putri temannya yang diberikan untuknya ke album photo miliknya. Namun..,"darling..", bisik Nona. "Aku sangat merindukannya Tuhan", batin Nona. Hitungan detik berikutnya sesak yang selama ini disimpan meledak menjadi bulir-bulir kepedihan.
Air mata yang mengalir deras bercampur isak Nona yang berkali-kali menyebut darling, tak tertahankan lagi. Tak peduli seberapa kuat suara tangis itu, Nona tak perduli. Dia ingin melepaskan sakit itu keluar. Tapi tetap saja Nona tak mampu membuang segala perih itu. Dia menyimpan walau sedikit, yang nantinya juga pasti akan menggunung. Kala rindu tak terbendung, kala marah tak terhalang, yang kembali semua hanya bisa terlampiaskan dengan menangis.
Nona menangis. Ingnin rasanya dia kembali bisa memeluk lengan kekasihnya itu, memeluk dan mencium wangi tubuh kekasihnya. Mengelus dan membelai jari-jemari kokoh cintanya itu. Bersandar di bidang dada kekasihnya yang bisa menyamankan dunianya.
Lelah menangis, Nona diam sendiri. "Tuhan, begitu banyak laki-laki tampan datang padaku, laki-laki tampan yang kalau kuingin begitu mudahnya meredam bias nafsu manusiaku, namun hanya dia yang kuingin untuk menyentuhku".
Lelah bercengkerama dengan Tuhannya, Nona mencoba bermimpi.
Dalam mimpinya dia memeluk erat kekasihnya yang tak berwujud. Walau Nona tau dia tak memeluk lelaki yang ditunggu-tunggunya itu, tapi dirasakannya seakan lelaki itu ada. Sambil memeluk erat dia berkata,"i miss you darling..".
Di dunia yang sudah di lain hari..
Mimpi mana yang sebenarnya kuingin?
Saat ini Nona lagi menyukai laki-laki Indonesia yang rumahnya tak jauh dari rumah Nona. Setelah bertahun-tahun, tepatnya 5 tahun dan sebenarnya dihati Nona sudah memutuskan tidak akan menyukai lagi laki-laki lokal dengan alasan klise, muak.
Bagong, panggilan sayang Nona untuk Anca -laki-laki lokal tetangganya itu.Bagong karna tubuh Anca yang agak gemuk plus perut yang endut.Tipe tubuh yang sebelumnya masuk kategori alergi untuk Nona. Anca sering datang kerumah mereka karna memang dia guide. Sudah lama Nona memperhatikan Anca, bukan karna tertarik, melainkan karna Anca selalu cuek, malah sama sekali nggak pernah melihat ke arah Nona kalau dia datang membawa bule ke rumah untuk menginap. Walau cuek dan terkesan sombong tapi Anca bukan seperti guide-guide lain. Dia nggak pernah sama sekali minta fee atas jasanya itu membawakan tamu untuk menginap di guest house kakaknya. Setelah mengantar dia langsung pulang. Itu yang bikin Nona penasaran, "kok sikitpun dia nggak pernah mau melihat ke arahku?"
"Anca bukanlah ganteng, dekil itam iya", nilai Nona selalu begitu tiap Anca dilihatnya dulu. "Emang sih manis, dikit..". Tiap laki-laki yang datang ke guest house itu pasti kebanyakan menyukai Nona, nggak lokal apalagi bule. Kok Anca enggak?
Satu hari dulu mereka Anca dan Nona perna bertengkar. Masalahnya Nona membelai kakanya yang dibentak-bentak Anca dirumah mereka sendiri. Nona nggak terima Anca bicara dengan nada tinggi gitu. Balik dia bentakin Anca. "Tolonglah abang hargai yang punya rumah. Apa mentang mentang kami pendatang dan abang orang sini maka sesuka hatinya abang ngomong keras-keras di sini? Kalau abang nggak terima bicarain bagus-baguslah. Gimanapun kerasnya abang bicara, pakai pukul-pukul meja lagi, nggak akan menang abang melawan kami perempuan. Terserah kamilah mau ngomong apa kami di rumah kami sendiri", Nona menginagat amarahnya yang meledak-ledak ke Anca dulu. Kalau ingat itu masih gemes rasanya ke Anca. Tapi lain sekarang. Anca sudah lebih berubah. Dari penampilan nggak dekil lagi dan lebih bergaya, hanya saja peyutnya makin bertambah endutttt.. Anca juga suka curi-curi pandang ke Nona sekarang. Semula Nona masih benci. Lama dia mengenal Anca yang mulai sering main ke rumah ngumpul-ngumpul bareng guide yang lain, hatinya pun mulai terbuka. Kontak mata mereka berdua juga nggak mau dibuang lagi. Sosok Anca dirasa Nona mampu melindungi kurus tubuhnya.
"Dia suka menjudikan uangnya untuk taruhan bola, dia juga nggak mau membagikan pendapatan dia untuk traktir teman-temannya", itu kudengar yang dikatakan bang Bob teman guide Anca ke kakakku. Dia juga mau merokok dedaunan yang dilarang pemerintah apalagi agama. "Itu semua yang nggak kusuka dari dia", desah Nona gulana. Kalau makannya yang banyak aku sangat senang melihatnya.
"Baikkah dia untuk kuminta kepada Tuhanku untukku dihidupku?",Nona bertanya kembali kepada Tuhannya.
Hari berikutnya Nona megetahui kalau Anca sudah punya kekasih.