Archive for August, 2008

perempuan TERpilih

Friday, August 15th, 2008

100_6272 Nona mengguman lirih, "aku bukan perempuan terpilih". Angannya jatuh kepada perempuan-perempuan disekitarnya yang masing-masing sudah punya kekasih. Sari teman karibnya, walau bertubuh gendut tapi berwajah lumayan manis, sudah menikah dengan laki-laki yang dicintainya, dan sekarang sudah mempunyai anak sepasang. Yang laki-laki mirip Sari sedang yang perempuan mirip ayahnya. Nona teringat Trisna yang walau tomboy seperti laki-laki, toh dia juga bisa menikah dengan laki-laki yang diinginkannya dan sekarang sudah mempunyai seorang jagoan yang sangat tampan. Belum lagi Idesa, walau punya wajah biasa saja dan suami juga berwajah pas-pasan mereka tetap menikah dan sekarang hidup kaya dengan satu putri cantik mereka yang baru 3 bulan ini menemani mereka. Belum lagi ipar-iparku yang banyak dan kesemua mereka tidak ada yang dalam kategori cantik, tapi tetap saja mereka terpilih untuk menikah dan menjadi pemdamping laki-laki tampan. Dan lihat disekeling begitu semua yang terlihat, perempuan-perempuan dengan masing-masing laki-laki yang sudah memilih mereka. "Dan aku?", Nona mendesah perih, "tak satupun yang memilihku..".

Teringat saat Nona memergoki Yanti berduaan dengan laki-laki bule asal Italia di kamar Yanti, kamar tempat dia nginap di penginapan kakak Nona. Yanti perempuan yang dipilih temannya Franco, laki-laki asal Italia yang memang sudah berumur untuk dijadikan pendamping hidupnya, Yanti yang dipercaya Franco untuk merawat dia dan anak -anak mereka kelak. Yanti dengan laki-laki selingkuhannya habis dimarahi oleh Nona. "Mau kamu apa sebenarnya Yan?", aku berteriak marah waktu itu ke Yanti. "Ngapain  kamu bawa laki-laki yang bukan suamimu ke kamrmu?" "I told you before that she already merried", ganti Roberto laki-laki botak selingkuhan Yanti kena damprat Nona. "Kami tidak melakukan apa-apa", elak Yanti dan Roberto. "Dont lie, i now you sleep here last nite", jerit Yanti marah besar. "We not do anything, i have girlfriend in Italie", si botak membela diri. "I dont care, how if your wife do llike this?", Nona masih tetap berang. Selanjutnya Nona tidak mau mengingatnya lagi. Nona ingat perempuan bernama Andini, perempuan yang dipilih laki-laki yang dikenal dia tanpa sengaja, yang laki-laki itu Nona bersimpati padanya karna dia begitu angkuh terhadap perempuan-perempuan yang mencoba menarik perhatiannya. Laki-laki yang tak mau membagi perasaannya kepada banyak perempuan. Tapi apa yang terjadi, laki-laki yang bernama Mursanadi, yang dikagumi Nona secara diam-diam itu ternyata menjatuhkan pilihannya pada perempuan yang seperti.."pelacur mana tu?" itu yang keluar dari bibir Desy saat melihat photo-photo Andini yang sengaja dipublikasikan Andini di salah satu website yang banyak dikunjungi anak muda di Asia Tenggara. Mungkin itu yang dilihat Mursanadi dari perempuan itu, gayanya yang seperti artis dan ha-hal lain yang tidak diketahui oleh Nona. Nona salah menafsirkan pribadi Mursanadi. Mursanadi bukanlah pribadi sederhana seperti yang ditebak Nona.

Yang jelas, perempuan-perempuan terpilih itu sudahlah tentu lebih baik dari Nona. Mereka telah dipilih dan dipercaya untuk mendampingi laki-laki. Nona memilah-milah tiap ujung tubuhnya, memilah-milah tiap lembar jiwanya. "Tak satupun yang yang bisa menjual, hihi..", guman Nona geli sendiri

Kembali Nona mematut-matutkan ujung dagunya ke dengkul kurusnya. Apa yang bisa menjual dariku? Baik enggak, karna aku sering marah kalau bicara dengan kakakku (abis dia gila duit). Aku ingin semua dilakukan dengan benar dan tanpa kebohongan tapi kebanyakan dari laki-laki tidak begitu menyukai hal itu. Aku menyukai kepolosan di setiap polesan wajahku sementara kaum adam itu lebih menginginkan tampilan bidadari yang berdiri di depannya. Aku sangat memuliakan kelembutan di setiap hela nafas yang kukeluarkan dan disetiap sentuhan yang kuberikan, namun mahluk yang dikenal dengan sebutan umum pria itu tak terlalu menomorsatukan hal itu. Aku sangat mengangungkan kemurnian tubuh dan asaku dan lagi laki-laki tidak melihat itu. Lantas apa yang akan membuat mereka memalingkan wajahnya ke arahku?

Kini Sari dan suaminya kudengar lagi dalam situasi yang genting. Mereka sering betengkar. Gara-garanya perbedaan visi juga perbedaan karakter dari sifat maupun lingkungan yang membesarkan keduanya. Trisna, anaknya yang tampan selalu dimarah dan dipukuli olehnya kalau bocah tampan itu menyeraki apa yang sudah ditata mamanya. Bocah itu kurus, alasan mamanya faktor turunan. Dulu dia juga kurus, tapi setelah gede bisa sintal juga. Yang aku lihat Trisna tidak pernah masak untuk anak dan suaminya. Bocah tampan itu tidak diberi asi karna memang air susu Trisna tidak keluar, tapi makanannya juga kulihat tidak baik. Suami Trisna dan Trisna juga sering betengkar dan tak jarang mereka main fisik. Suaminya bekerja sebagai alat negara. Trisna sulung dari tiga bersaudara.

Lembar ingatan berikutnya Nona singgah ke salah satu teman jauhnya, Mayfira dan Masanah. Mayfira dan Masanah gadis muda duapuluhan tahun, dan diusia semuda itu mereka .. kenal gemerlapnya dunia malam, bebasnya hubungan lawan jenis.

iMPiAN nONa

Wednesday, August 6th, 2008

317540104l_1 "Badanku masih anget. Sisa demam kemaren belum hilang juga, ditambah lagi lihat profile hi5 topino," Nona berguman sendiri.

Udara panas luar dirasakan olehnya meski suhu rendah dari temperatur ac tak pernah mati di ruangan itu. Nona ingat rumahnya tinggal. Hatinya kembali gemes bercampur sebel. Oliver, bule asal Jerman yang nginap di penginapan kakaknya yang sudah hampir setengah tahun ini, merasa kalau Nona ingin sekali menikah dengan dia. "Aku? Apa dia pikir cuma dia laki-laki di dunia ini? Dasar laki-laki geblek, bule’ geblek! Dia yang kenal aku setengah tahun merasa sudah tahu aku beribu-ribu tahun. Emang kebanyakan laki bule pada geblek, expecialy yang muda. Mereka mendapat nilai minus didalam pemberian kesimpulan. Aku baik padanya, atau aku mau bicara dengannya atau aku mau berteman dengannya bukan berarti aku suka padanya. 10 tahun aku sudah bergaul dengan bule dia nggak tahu itu. Apa selama itu hanya dia yang terpilih untuk kukagumi? Untuk kucintai? Apa dia cukup berkwalitas makanya dia sampai menyimpulkan kalau aku mau menikah dengan dia?", gerutu Nona sendiri sambil pandangan mata menatap geram komputer di depannya,seakan komputer itupun pengen ditelan dia idup-idup. "Ah,malas jadinya pulang." Lihat komputer angannya terpaut pada laki-laki yang menggenggam hatinya. "Darling, where are you now?" tanya Nona sedih pada angin yang tak bernyawa disekelilingnya. Kantor dan komputer membuat dia merana karna pasti akan mengingatkannya pada laki-laki bule asal Spanyol yang biasanya, email-email laki-laki itu dibalasnya di kantor. Kini sudah tiga bulan tak satu emailpun yang dikirim oleh hasiannya (sebutan sayang dalam bahasa Batak) itu. Bukan apa-apa, memang maunya Nona untuk memutuskan hubungan pertemanan mereka. Nona yang meminta supaya Ruben (nama bule Spanyol itu) tidak email dia lagi. Nona ga kuat membayangkan Ruben bersama dengan perempuan lain. Makin hari Nona makin sayang sama Ruben. Waktu bertambah, sayang Nona berubah jadi cinta.

Malam kesejuta hari Nona. Waktu itu Nona membuka kotak yang menjadi tempat untuknya menyimpan segala benda-benda penting. Kotak yang awalnya kotak sepatu itu Nona sulap jadi kotak cantik berwarna ungu dengan motif daun. Nona berencana memasukkan photo putri temannya yang diberikan untuknya ke album photo miliknya. Namun..,"darling..", bisik Nona. "Aku sangat merindukannya Tuhan", batin Nona. Hitungan detik berikutnya sesak yang selama ini disimpan meledak menjadi bulir-bulir kepedihan.

Air mata yang mengalir deras bercampur isak Nona yang berkali-kali menyebut darling, tak tertahankan lagi. Tak peduli seberapa kuat suara tangis itu, Nona tak perduli. Dia ingin melepaskan sakit itu keluar. Tapi tetap saja Nona tak mampu membuang segala perih itu. Dia menyimpan walau sedikit, yang nantinya juga pasti akan menggunung. Kala rindu tak terbendung, kala marah tak terhalang, yang kembali semua hanya bisa terlampiaskan dengan menangis.

Nona menangis. Ingnin rasanya dia kembali bisa memeluk lengan kekasihnya itu, memeluk dan mencium wangi tubuh kekasihnya. Mengelus dan membelai jari-jemari kokoh cintanya itu. Bersandar di bidang dada kekasihnya yang bisa menyamankan dunianya.

Lelah menangis, Nona diam sendiri. "Tuhan, begitu banyak laki-laki tampan datang padaku, laki-laki tampan yang kalau kuingin begitu mudahnya meredam bias nafsu manusiaku, namun hanya dia yang kuingin untuk menyentuhku".

Lelah bercengkerama dengan Tuhannya, Nona mencoba bermimpi.

Dalam mimpinya dia memeluk erat kekasihnya yang tak berwujud. Walau Nona tau dia tak memeluk lelaki yang ditunggu-tunggunya itu, tapi dirasakannya seakan lelaki itu ada. Sambil memeluk erat dia berkata,"i miss you darling..".

Di dunia yang sudah di lain hari..

Mimpi mana yang sebenarnya kuingin?

Saat ini Nona lagi menyukai laki-laki Indonesia yang rumahnya tak jauh dari rumah Nona. Setelah bertahun-tahun, tepatnya 5 tahun dan sebenarnya dihati Nona sudah memutuskan tidak akan menyukai lagi laki-laki lokal dengan alasan klise, muak.

Bagong, panggilan sayang Nona untuk Anca -laki-laki lokal tetangganya itu.Bagong karna tubuh Anca yang agak gemuk plus perut yang endut.Tipe tubuh yang sebelumnya masuk kategori alergi untuk Nona. Anca sering datang kerumah mereka karna memang dia guide. Sudah lama Nona memperhatikan Anca, bukan karna tertarik, melainkan karna Anca selalu cuek, malah sama sekali nggak pernah melihat ke arah Nona kalau dia datang membawa bule ke rumah untuk menginap. Walau cuek dan terkesan sombong tapi Anca bukan seperti guide-guide lain. Dia nggak pernah sama sekali minta fee atas jasanya itu membawakan tamu untuk menginap di guest house kakaknya. Setelah mengantar dia langsung pulang. Itu yang bikin Nona penasaran, "kok sikitpun dia nggak pernah mau melihat ke arahku?"

"Anca bukanlah ganteng, dekil itam iya", nilai Nona selalu begitu tiap Anca dilihatnya dulu. "Emang sih manis, dikit..". Tiap laki-laki yang datang ke guest house itu pasti kebanyakan menyukai Nona, nggak lokal apalagi bule. Kok Anca enggak?

Satu hari dulu mereka Anca dan Nona perna bertengkar. Masalahnya Nona membelai kakanya yang dibentak-bentak Anca dirumah mereka sendiri. Nona nggak terima Anca bicara dengan nada tinggi gitu. Balik dia bentakin Anca. "Tolonglah abang hargai yang punya rumah. Apa mentang mentang kami pendatang dan abang orang sini maka sesuka hatinya abang ngomong keras-keras di sini? Kalau abang nggak terima bicarain bagus-baguslah. Gimanapun kerasnya abang bicara, pakai pukul-pukul meja lagi, nggak akan menang abang melawan kami perempuan. Terserah kamilah mau ngomong apa kami di rumah kami sendiri", Nona menginagat amarahnya yang meledak-ledak ke Anca dulu. Kalau ingat itu masih gemes rasanya ke Anca. Tapi lain sekarang. Anca sudah lebih berubah. Dari penampilan nggak dekil lagi dan lebih bergaya, hanya saja peyutnya makin bertambah endutttt.. Anca juga suka curi-curi pandang ke Nona sekarang. Semula Nona masih benci. Lama dia mengenal Anca yang mulai sering main ke rumah ngumpul-ngumpul bareng guide yang lain, hatinya pun mulai terbuka. Kontak mata mereka berdua juga nggak mau dibuang lagi. Sosok Anca dirasa Nona mampu melindungi kurus tubuhnya.

"Dia suka menjudikan uangnya untuk taruhan bola, dia juga nggak mau membagikan pendapatan dia untuk traktir teman-temannya", itu kudengar yang dikatakan bang Bob teman guide Anca ke kakakku. Dia juga mau merokok dedaunan yang dilarang pemerintah apalagi agama. "Itu semua yang nggak kusuka dari dia", desah Nona gulana. Kalau makannya yang banyak aku sangat senang melihatnya.

"Baikkah dia untuk kuminta kepada Tuhanku untukku dihidupku?",Nona bertanya kembali kepada Tuhannya.

Hari berikutnya Nona megetahui kalau Anca sudah punya kekasih.